2018 Kasus ABH di Bulungan Menurun

2018 Kasus ABH di Bulungan Menurun

TANJUNG SELOR – Sepanjang tahun 2018 lalu dapat diketahui bahwa kasus dengan pelaku seorang anak atau kerap juga disebut dengan anak berhadapan dengan hukum (ABH) di wilayah Bulungan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari data yang dipaparkan dalam press conference akhir tahun yang dilakukan oleh Polres Bulungan beberapa waktu lalu tercatat ada sebanyak 13

TANJUNG SELOR – Sepanjang tahun 2018 lalu dapat diketahui bahwa kasus dengan pelaku seorang anak atau kerap juga disebut dengan anak berhadapan dengan hukum (ABH) di wilayah Bulungan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari data yang dipaparkan dalam press conference akhir tahun yang dilakukan oleh Polres Bulungan beberapa waktu lalu tercatat ada sebanyak 13 kasus yang ditangani, angka tersebut jauh berbeda dengan tahun lalu yang mencapai 25 kasus.

Dari angka tersebut dapat dirincikan kasusnya seperti pencurian biasa sebanyak 2 kasus, persetubuhan 4 kasus, human trafficking 2 kasus, penganiayaan sebanyak 3 kasus dan pencabulan sebanyak 2 kasus.

Hal itu bukan tanpa sebab, Kapolres Bulungan AKBP Andrias Susanto Nugroho melalui Kasat Reskrim Polres Bulungan AKP Gede Prasetia Adi Sasmita mengungkapkan bahwa berkaitan dengan penangganan terhadap ABH, tidak semuanya bisa langsung diproses secara pidana.

“Kita punya undang-undang perlindungan anak dan lebih mengedepankan proses diversi dimana kasus-kasus yang dibawah ancaman 7 tahun penjara kemudian baru dilakukan pertama kali atau tidak berulang kali, wajib diversi,” jelas Gede.

Sebenarnya kata Gede banyak kasus-kasus anak yang ditangani oleh pihaknya, baik itu ABH maupun korbannya seorang anak. Namun banyak juga yang selesai sebelum naik ke persidangan.

“Di kami memang yang banyak kami tanggani itu adalah ABH, tapi banyak yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan melalui proses diversi,” ungkap Gede.

Gede menjelaskan, pihaknya juga tidak dapat mengintimidasi kedua belah pihak, baik pelaku maupun korban atas keinginan mereka untuk berdamai, sehingga diversi tersebut wajib dilakukan.

“Bahkan jika tidak dilaksanakan diversi tersebut, ada sanksi pidana yang bisa dikenakan bagi penyidik, begitu juga ditingkat jaksa,” jelasnya.

“Itulah mengapa sampai kasusnya menurun, lantaran banyaknya diversi,” timpalnya.

Terlepas dari itu kata Gede, untuk hal pencegahan, lantaran pihaknya berkerjasama dengan pihak Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), baik provinsi maupun kabupaten, sehingga lebih banyak langkah preventif dilakukan oleh pihak tersebut.

“Karena untuk dikami, kegiatan itu tidak bisa kami laksanakan, tidak ada anggarannya,” sebut Gede.

Sementara itu dalam melakukan pembinaan, utamanya ABH disebutkan Gede, selain dilakukan pendataan serta identifikasi, pihaknya juga melakukan wajib lapor kepada ABH tersebut, dimana laporan tersebut ditujukan kepada pihak Polres Bulungan.

“Dan wajib lapor ini wajib dilakukan dan wajib didampingi orang tuanya, tak hanya itu ABH tersebut juga dalam pantauan kami,” bebernya.

“Karena jangan sampai ia berbuat yang lebih jauh atau mengulangi lagi perbuatannya,” jelasnya.

Hanya saja kata Gede, dalam pemantauannya, pihak Kepolisian sendiri tidak bisa terlalu, karena untuk urusan pembinaan tetap berada pada kewenangan orang tuanya sendiri.

“Karena juga sudah tugas dan tanggung jawabnya. Pihak sekolah pun kami harapkan pembinaannya jika seorang ABH itu masih berstatus anak sekolah, oleh karenanya ketika terjadi kasus, baik orang tua maupun pihak sekolah lah yang kami panggil,” terangnya.

Disinggung mengenai apakah ABH yang selama ini ditanggani itu statusnya bersekolah atau tidak, dijelaskannya memang lebih banyak yang tidak sekolah meski angkanya tidak signifikan.

“Perbandingannya tidak terlalu jauh dengan mereka yang sekolah. Yang sekolah juga banyak, hal ini lantaran pergaulan mereka di luar, sehingga terjerumus, bukan hanya kalangan ekonomi rendah saja, bahkan ada beberapa yang dapat dikatakan sebagai anak orang mampu,” jelasnya.

Itulah fakta yang ditemukan oleh pihaknya, bukan hanya di tahun ini saja, bahkan tahun 2017 atau bahkan dari tahun ke tahun Bulungan ini memang masih rentan terhadap ABH maupun korbannya anak.

“Bulungan masih rentan terjadinya kasus yang melibatkan anak, berkaca dari data-data yang ada,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia katakan, pihaknya juga berharap agar masalah edukasi kepada orang tua berkaitan dengan kenakalan-kenakalan remaja yang dapat saja terus meningkat yang kemudian berujung pada terjadinya tindak pidana.

“Masalah edukasi ini juga penting, masalah anak memang seharusnya dibutuhkan sinergi yang kuat, untuk menyelamatkan masa depan mereka,” pungkasnya. (diskominfo)

Citra Benuanta
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *