Tias, Potret Kampung Nelayan

Tias, Potret Kampung Nelayan

Menggantung Hidup di Tengah Sepinya Pembeli Kekayaan bahari menjadi sumber pendapatan alternatif dan startegis bagi masyarakat. Biasanya dalam kondisi melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat, maka salah satu kegiatan ekonomi sebagai sumber pendapatan yang paling survive dan sanggup bertahan adalah kegiatan ekonomi ekstraktif. Ekonomi ekstraktif adalah ekonomi dimana masyarakat mengambil hasil dan

Menggantung Hidup di Tengah Sepinya Pembeli

Kekayaan bahari menjadi sumber pendapatan alternatif dan startegis bagi masyarakat. Biasanya dalam kondisi melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat, maka salah satu kegiatan ekonomi sebagai sumber pendapatan yang paling survive dan sanggup bertahan adalah kegiatan ekonomi ekstraktif.

Ekonomi ekstraktif adalah ekonomi dimana masyarakat mengambil hasil dan mengolahnya langsung dari alam seperti sektor kehutanan, sektor pertanian dan sektor perikanan. Tersebutlah sebuah dusun kampung kecil benama Tiyas atau Tias.

Sebuah kampung yang berada di daerah pantai persisnya berada dibibir laut dekat muara sejajar ke selatan 18 kilom dengan Desa Tanah kuning. Kampung Tias secara administratif masuk Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

Penduduknya yang berjumlah sekira 1000 orang ini hampir seluruhnya bergantung pada aktifitas nelayan tangkap, hanya segelintir orang yang melakukan budidaya tambak dan beberapa lagi pedagang kecil.

Untuk memberikan gambaran sekelumit aktifitas kampung nelayan ini, berikut tulisan dan hasil liputan tim Citra Benuanta Diskominfo Bulungan yang langsung dikoordinir H.Moch. Zulkifli, SE,.M.Si selaku kepala dinas.

Untuk mencapai Kampung Tias ini, perjalanan ke daerah tersebut hanya bisa menggunakan perahu bermotor misalnya kapal dengan mesin pengerak diesel, perahu ketinting dan speed boat. Otomatis perjalanan darat belum bisa karena terputus oleh tambak rakyat dan gugusan pulau-pulau kecil dan besar sehingga praktis hanya menggunakan jalur sungai dan laut.

Tim berangkat sekira pukul 08.30 wita dari Ibukota Kaltara, Tanjung Selor sekira 45 menit. Tim memilih untuk menempuh perjalanan melalui anak Sungai Kayan, yaitu Sungai Selor yang muaranya tak jauh dari kota ibadah.

Menggunakan speedboat bermesin 40 PK satu buah, tim menyusuri sungai selor yang terlihat masih asri, pemandangan kiri dan kanan hanya dihiasi semak dan hutan mangrove, sesekali juga dapat dijumpai masyarakat  sekitar, seperti Desa Jelarai, tengkapak dan Binai beraktifitas baik ladang ataupun dengan menggunakan perahu motor dan dayung disepanjang alur sungai.

Semakin jauh perjalanan, juga akan dijumpai aktifitas perusahaan yang beroperasi di wilayah ini, utamanya perusahaan batubara. Sepanjang tepian sungai banyak dijumpai  unit alat berat, kapal-kapal berukuran besar (tugboat) menarik tongkang-tongkang skala 300 feet disekitar lokasi.

Jam kini menunjukkan pukul 09.30 wita, tim telah jauh menyusuri anak sungai ini, sepanjangan perjalanan tim menikmati panorama dan keasrian sungai yang masih tenang, kerap dijumpai para nelayan berlalu lalang, tampak ramah, sesekali mereka pun melambaikan tangan kearah tim.

Semakin dekat dengan laut, sepanjang pinggiran sungai hanya terlihat hutan bakau, nipah, pohon perangat dan hutan mangrove lainnya.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10.00 wita, tim pun lebih dekat dengan tujuan, berjarak kurang lebih 1 kilometer dan masih diatas perairan mulai terlihat perkampungan nelayan yang disebut Kampung Tias tersebut.

Atas permintaan tim, motoris pun memperlambat laju perahu motor agar tim bisa mengambil gambar perkampungan, baik berupa video maupun foto. Secara kasat mata, memang kampung ini berada di pesisir laut, yang tak jauh dari Kota Tarakan.

Semakin dekat, kampung nelayan ini sangat terasa dengan banyaknya kapal-kapal nelayan yang berlabuh tepat di depan rumah warga. Juga tampak peti-peti ikan untuk penampungan ikan hingga alat tangkap lainnya.

Perumahan di kampung ini berdiri dibibir sungai yang lebarnya kurang lebih 15 hingga 20 meter. Baik sisi kiri maupun kanannya, dipenuhi perumahan warga. Jalan lingkungan yang ada disini hanya berupa jembatan kayu selebar sekira 2 meter, tak ada semenisasi maupun aspal.

Sesampainya di kampung nelayan ini, tim harus mencari salah satu pemandu tim yang sekaligus juga akan menjadi narasumber dalam peliputan kali ini. Dengan menaiki anak tangga dari kayu, tim pun perlahan turun dari perahu motor.

Tak jauh dari tempat motoris menyandarkan perahunya, tim pun diberi jalan oleh warga sekitar bahwa rumah yang hendak dituju berada dekat dengan tim. “Itu rumah pak Hamka,” ucap salah seorang ibu yang sedang menjemur Ikan sembari menunjukan arah rumah yang dimaksud.

Tim pun menuju arah yang diberikan, yaitu rumah kayu berukuran sekira 6 x 6 meter persegi yang didepannya terdapat toko sembako kecil di RT VII. Saat tim tiba, narasumber memang sedang tidak berada ditempat. Namun dengan kedatangan tim, sang istripun bergegas memanggilnya.

Beberapa meter tempat tim berdiri, terlihat lelaki paruh baya berambut ikal mengenakan celana berwarna coklat dipadupadankan dengan baju kaos berkerah berwarna biru bermotif garis-garis mendekat menghampiri.

“Apa kabar pak,” ucapnya ramah sembari menyalami tim peliputan.

Hamka sendiri merupakan Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tias Maju, tak lama kemudian, iapun mempersilahkan tim masuk ke kediamannya. Sembari berbincang dengan ditemani kopi hangat yang dibuat oleh sang istri, Hamka bercerita benar bahwa penduduk Kampung Tias mayoritasnya adalah nelayan. Dengan kepadatan penduduk yang mencapai  hingga seribu orang.

“Disini memang mayoritas nelayan pak, sebagian lagi petambak,” ungkapnya dengan logat Bugis.

Potensi alam yang ada tuturnya dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar termasuk dirinya. Sebagai nelayan, lanjutnya dalam sekali turun ke laut, ia biasa membawa 3 jenis alat tangkap, seperti pukat ikan, rawai dan pukat trool untuk menangkap udang.

“Kalau udang tidak musim atau kurang, maka kita gunakan pukat ikan atau rawai ikan,” ujarnya.

Ada dua jenis hasil tangkapan yang mendominasi usaha nelayan disini yakni udang dan ikan laut. Kalau udang cenderung langsung di beli pengepul dalam bentuk udang segar (basah) demikian juga ikan-ikan segar khususnya jenis ikan merah, ikan putih, tembaring, kakap, krapu, kepiting dll langsung dibeli pengepul yang memang bermukim dan menjadi juragan ikan di Tias.

Hasil pengamatan tim di lapangan ada beberapa pengepul alias pembeli udang dan Ikan di kanan kiri bantaran sungai Tias, salah satunya yang besar dan mapan adalah CV Iqbal Bersama milik H.Usman. Di toko ini selain membeli ikan dan udang juga diperjual belikan es balok  dan BBM Solar.

Hamka bercerita, selain udang dan ikan basah yang langsung dijual kepada pengepul, masyarakat nelayan di Tias ini juga mengolah dan memproses sendiri ikan-ikan non size yang didapat menjadi produk ikan asin.

Kepada Hamka, disinggung ikan apa saja yang kerap dijadikan ikan kering (ikan asin), tentu kata dia beragam, namun yang menjadi primadona, ialah jenis otek dan ikan Gulama. Ikan dengan nama latin J. Trachycephalus itu dapat menjadi produk ikan asin dan telah dikenal masyarakat luas sehingga penjualannya di pasarannya diyakini mudah.

“Selain Gulama juga ada ikan lainnya, tapi yang biasa dibuat ikan asin itu Gulama, yang lainnya dijual dalam bentuk ikan segar saja ke pengepul,” jelasnya.

Berbicara ikan asin, tentu tak elok jika tanpa melihat proses pembuatannya. Sembari berbincang, Hamka pun menujukkan cara-caranya, dibantu sang istri dan dua warga lainnya, yaitu Ibu Napiah dan Ibu Rahmat.

Dimulai dari proses pengambilan ikan hasil tangkapan, Hamka melanjutkan, ikan yang telah ditangkap terlebih dahulu dibelah untuk ikan asin belah dan dibuang jeroannya untuk ikan asil bulat.

“Selesai itu ikan kemudian kita bersihkan lagi dengan air, setelahnya barulah ikan diberikan garam dan didiamkan selama satu malam,” jelasnya.

Setelah ikan yang ditaburi garam dibiarkan bermalam, selanjutnya bisa dicuci kembali untuk membuang garam-garam yang ada. Selanjutnya adalah proses penjemuran. Pada tahap ini lah yang juga membutuhkan waktu lama.

“Untuk hasil yang maksimal itu bisa dijemur hingga tiga hari,kalau panas terik bisa dua hari,” sebutnya.

Hanya saja kata dia, saat ini nelayan memilik kendala terkait hasil tangkapan maupun produk ikan asin yang mengalami penurunan pembeli. Hal ini terjadi sejak dua bulan terakhir. Bahkan terkadang hasil nelayan terpaksa harus dibuang lantaran ikan yang ada mengalami pembusukan.

“Karena sepi pembeli, terkadang ikan sampai dibuang, untuk ikan asin walaupun ada ikannya itu tidak dikerjakan, karena dinilai percuma, tidak ada yang beli,” keluhnya.

Disinggung mengenai apa alasan sepinya pembeli, secara teknis ia tak mengetahuinya, namun dikatakan pihak pengepul, ikan sulit dijual di pasaran, baik yang ada di Tarakan maupun Tanjung Selor.

“Katanya jualnya yang susah, entah ikannya banjir atau bagaimana kita kurang tahu,” jelasnya.

Padahal, lanjut Hamka, hasil tangkapan ini juga dapat menunjang biaya kebutuhan sehari-hari. Jika sepinya pembeli karena masalah harga, lanjutnya, saat ini harga ikan, khususnya asinan itu telah turun drastis.

“Jika sebelumnya untuk yang belah itu perkilonya Rp 25 ribu, saat ini hanya Rp 11 ribu perkilo, untuk yang bulat dulu Rp 13 ribu, saat ini hanya Rp 6 ribu saja. Itu sudah termasuk murah, namun tetap sepi pembeli,” ungkapnya.

Untuk itu ia juga sangat berharap kepada pihak terkait, khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan untuk turut memberikan pembinaan, baik dalam bentuk alat tangkap hingga pemasarannya.

“Agar kedepan hasil tangkapan nelayan ini bisa terjual secara berkelanjutan, saat ini kami minim pemasukan,” sebutnya.

Hal tersebut sangat diharapkan mengingat potensi perikanan di Kampung Tias tersebut juga cukup besar.  Sekali turun ke laut kata dia jika bernasib baik nelayan bisa mendapatkan ikan hingga satu pikul atau setara 100 Kilogram.

“Jika tak bernasib baik, dua pekan lamanya baru bisa dapat satu hingga dua pikul, itu juga sudah lumayan dikalikan berapa jumlah nelayan disini,” pungkasnya.(Samsul Umardhany/MC Bulungan)

Samsul Umardhani
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *